05/10/12

PENYESALAN DI AWAL


Pernah kah anda nyesel duluan? mungkin kita semua menyebut itu hal yang janggal. Karena kita tau yang namanya penyesalaan itu datangnya pasti belakangan dan tak mungkin di awal. Beda halnya degan cerita yang akan saya tulis di bawah ini, bahwa nyesel juga bisa datang duluan. Mari kita simak ceritanya.
D
i cerita kan lah sepasang sahabat yang selalu bermain bersama di kala waktu senggangnya, sebut lah mereka Fajar yang berperawakan kurus tinggi dan berkulit putih serta lembut di kala berbicara, lalu satu lagi Yanto yang berperwakan sedang dengan kulit sawo matang dan selalu ceria serta bisa membuat teman temannya semua tertawa dengan lawakannya. Waktu itu kebetulan tepat pertengahan bulan suci ramadhan, mereka yang masih duduk di bangku kelas dua SMK namun beda sekolah tetap saja tidak memu tuskan cerita persahabatan mereka yang sudah di jalaninya dari kecil. Hari itu kebetulan hari minggu, pada sore itu mereka berniat mengajak semua temennya bermain sepak bola di lapangan dekat yayasan islam yangkebetulan pula dekat dengan rumah mereka. Setelah berkeliling mengumpulkan teman untuk bermain sepak bola akhirnya ramai lah sudah di lapangan tersebut. Mereka mengajak bermain dengan alasan ngabuburit sambil menunggu buka puasa ketimbang harus ngabuburit di jalan nanti malah kena macet lebih baik bermain sepak bola saja.
 Permainan pun di mulai dengan operan kaki kiri Fajar ke arah Yanto, Yanto pun menggiring bola dengan lincahnya menghindari lawan yang menghadangnya. Tiba tiba Yanto lengah dan bola pun berhasil di rebut oleh lawannya yang memang memunya ke lincahan yang hamper sama dengan Yanto. Fajar pun mencoba merebut kembali bola tersebut, di luncurkan lah tackling ke arah lawannya dengan cepat yang akhirnya membuat pemain lawan terjatuh namun bola malah keluar lapangan. Lemparan ke dalam untuk lawan, di saat lawan melempar ternyata Yanto pun berlari dengan kencang dan berhasil merebut bola tersebut dari lawannya. Berlari lah Yanto menggiring bola ke arah gawang lawan, Yanto memberi umpan ke pada Fajar yang sedang berlari di sisi lainnya. Fajar berlari dan semakin dekat dengan gawang dan dia berencana ingin menendang bola dengan kencang kea rah gawang lawan. Setelah melewati dua pemain belakang Fajar pun mendang bola dengan dashyatnya ke arah gawang lawan namun berhasil di tepis oleh penjaga gawang lawan. Bola pun melambung tinggi di atas daerah kotak pinalti, tiba tiba Yanto meloncat dengan tinggi hendak melakukan sundulan ke arah gawang lawan dan akhirnya terdengar lah suara teriakan bahagia menandakan Yanto berhasil  memasukan bola ke gawang lawan.
            Mereka bermain sepak bola dengan senangnya hingga waktu pun sudah menandakan sebentar lagi saatnya berbuka puasa. Akhirnya mereka semua pun pulang ke rumah masing masing hendak mandi dan segera berbuka puasa bersama keluarganya di rumah. Sebelum  datang nyamper dahulu ke rumah Fajar, Yanto pun menyetujui permintaan Fajar tersebut hanya dengan memasang senyum sambil mengangguk ke arah Fajar.
            Yanto berbuka puasa dengan lahapnya karena telah menahan haus dan lapar pada siang tadi. Waktu isya pun sudah dekat, Yanto teringat pesan Fajar sore tadi dan dia pun bersegera pergi dengan niat nyamper si Fajar. Sesampainya di rumah Fajar dia pun langsung memanggil Fajar dari luar rumah dengan kencangnya, terdengar lah suara Fajar berteriak meminta Yanto untuk menunggu. Yanto pun mulai  tidak sabar ingin berangkat duluan lantaran waktu sudah duluan dan mengabaikan permintaan Fajar sore tadi.
            Langkah demi langkah Yanto berjalan dengan langkah agak cepat menuju mushola, jalan di kampung Yanto ini memang sedikit gelap karena masih minim penerangannya. Berjalan lah Yanto ke jalan yang memang kondisinya sedikit gelap, tiba tiba kaki Yanto tersandung batu yang membuat keseimbangannya goyah dan terjatuh Yanto dengan posisi badan tengkurap. Ternyata Yatno jatuh tepat di atas kotoran kerbau yang bau dan masih basah, terdengar lah suara langkah seseorang berjalan dengan membawa senter. Setelah dekat ternyata Fajar yang berjalan membawa senter tersebut, dengan reflek Fajar pun langsung tertawa melihat kondisi sarung dan baju Yanto yang di kenakannya berlumuran kotoran kerbau. Fajar pun berkata “ Makannya jangan main tinggalin gue aja, apes kan lu… “ sambil tertawa geli. Yanto pun berkata degan nada agak kesal “ GUE NYESEL DULUAN, kalo tau lu bakal bawa senter gak gue tinggalin tadi.. “. Dan akhirnya Yanto pulang dan tidak jadi shalat tarawih sedangkan Fajar tetap berangkat ke mushola sambil menahan tawa geli melihat sahabatnya tadi.


Begitu lah ceritanya kawan, walau sedikit tidak nyambung dan sulit di mengerti saya sudah berusaha membuat artikel ini. Mohon di kirim masukannya di email saya. Lebih kurangnya saya ucap kan terima kasih,

By  : Mohamad Widianto ( WD )